Sunday, December 16, 2012

"JALAN MENUJU SURGA"


Oleh: Abu Arsyad*

عَنْ أَبِيْ عَـبْدِاللهِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ الأَنْصَارِيِّ رَضِـيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوْبَاتِ , وَصُمْتُرَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ , وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَـيْئاً، أَأَدْخُـلُ الْجَـنَّة ؟ قَالَ -نَعَمْ- رواه مسلم

Dari Abdullah Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Bagaimana pendapatmu, jika aku melaksanakan shalat-shalat fardhu, berpuasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, serta aku tidak menambah dengan sesuatu apapun selain itu, apakah (dengan hal tersebut) bisa menjadikan aku masuk surga?” Rasulullah saw menjawab, “Ya.” (HR. Muslim)

Allah swt telah mengutus Nabi-Nya, Muhammad saw sebagai rahmat bagi alam semesta. Menyelamatkan umat manusia dari beragam bentuk kesesatan dan mengajak untuk menapaki jalan hidayah yang dapat menghantarkanke alam surga-Nya.

Jalan menuju surga terasa begitu mudahnya dan begitu terangnya. Allah telah menetapkan rambu-rambu dan juga aturan-aturannya. Siapa saja, yang mentaatinya dan komitmen dengan rambu-rambu itu, nisacaya ia sampai ke tujuan itu. Namun, jika ia melanggar rambu-rambu itu, tentu ia akan sesat dan jauh dari jalan kebenaran.

Rambu-rambu itu, sesuai dengan kesanggupan manusia. Sebab, Allah menghendaki kemudahan dan bukan kesulitan. Allah firmankan, yang artinya, "Dia (Allah), sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan (menyulitkan). (QS. Al-Hajj: 78)

Dalam ayat yang lain, juga Allah firmankan, yang artinya, "Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah: 6)

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)

Kedudukan Hadits

Al-Jurdani mengatakan, "Hadits ini memiliki kedudukan yang tinggi dan merupakan siklus ajaran Islam. Sebab, pada dasarnya amal perbuatan itu meliputi perbuatan hati dan anggota badan. Perbuatan-perbuatan ini, hanya ada dua kemungkinan: dibolehkan (halal) atau  dilarang (haram). Jika seseorang telah melaksanakan yang halal dan menjauhi yang haram, maka ia telah melaksanakan semua tugas dan agama, dan tentu ia masuk surga.

Ada juga yang mengatakan, "Hadits ini memberikan gambaran penting tentang kaidah beramal secara umum dalam Islam. Bahkan mencakup seluruh ajaran Islam. Kaidah yang digambarkan hadits ini adalah bahwa sesungguhnya segala amal perbuatan itu boleh dilaksanakan selagi terpatri dengan kewajiban-kewajiban syariat serta tidak melanggar prinsip umum hukum Islam, yaitu menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

Terkait dengan hal ini, ulama ushul fiqh memberikan satu kaidah tersendiri mengenai bolehnya melakukan segala perbuatan dalam muamalah dengan kaidah: Hukum asal dalam bermuamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang melarang perbuatan tersebut. Sedangkan dalam hal ibadah: Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang, hingga ada dalil yang memerintahkannya."

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata, "Sebagian ulama menafsirkan makna menghalalkan yang halal adalah meyakini bahwa hal tersebut halal; dan makna mengharamkan yang haram adalah, meyakini bahwa hal tersebut haram sebagaimana yang Allah haramkan, lalu menjauhinya.

Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah semata

Pada prinsipnya keimanan adalah keyakinan terhadap halalnya sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, dan haramnya sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah.  

Hanya Allah yang berhak menentukan halal dan haram, tiada seorang pun yang berwenang untuk menentukan hal itu. Betapa pun tingginya kedudukan manusia itu, baik dalam agama atau dunia, ia tidak berwenang; pendeta, rahib, raja atau penguasa. Jika ia memaksakan kehendaknya, maka ia telah melampaui batas dan melanggar Rububiyah Allah dalam membuat syari'at untuk makhluk. Dan siapa saja yang meridhai perbuatan tersebut dan mengikutinya, berarti dia telah menjadikannya sekutu bagi Allah, dan perbuatannya itu syirik. "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (QS. Asy-Syuro: 21)

Dan ayat, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Ma'idah: 87)

Kesimpulan Hadits

1)    Islam itu mudah. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya agama itu mudah.  Tiada seorang pun yang memperberat dalam beragama, melainkan ia pasti akan lemah." (HR. Bukhari)

2)    Kesederhanaan dalam beramal, disertai ketulusan dan keikhlasan untuk senantiasa berpijak pada syariat Allah, akan mengantarkan seseorang pada surga Allah swt.

3)    Beragamnya bentuk amal ibadah di dalam Islam merupakan rahmat Allah kepada para hamba-Nya agar senantiasa membangun dan menjaga hubungan antara keduanya dan menghilangkan rasa kejenuhan, serta menghimpun banyak pahala.

4)    Islam memberikan kebebasan amal dalam bidang mu'amalah, selama tidak ada dalil yang melarang satu perbuatan tertentu.

5)    Diharuskan bagi para dai bersikap bijaksana dan senantiasa memberikan motivasi objek dakwahnya untuk beramal, kendatipun kecilnya amalan tersebut. Karena dengan adanya motivasi, seseorang akan terus tergerak untuk beramal yang lebih baik, sebagaimana jawaban Rasulullah saw pada hadits di atas.

6)    Dalam beberapa hadits, shalat dan puasa selalu disebutkan sebagai amalan yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga. Hal ini menunjukkan pentingnya peranan shalat dan puasa. Sehingga tiada alasan bagi seseorang mengabaikan kedua ibadah ini dalam kondisi apapun juga.

7)    Penyebutan shalat dan puasa yang berulang-ulang, sekaligus menunjukkan bahwa sesungguhnya shalat dan puasa memiliki implikasi positif dalam diri siapapun yang mengamalkannya. Shalat dan puasa bukanlah sebuah ritual yang wajib dilaksanakan tanpa ada tujuan. Namun shalat dan puasa adalah ibarat pondasi dasar dan pagar yang dapat membentengi iman dari kerusakan dan kehancuran seorang mukmin.

Allahu a'lam

0 comments:

Post a Comment